Sukralosa banyak digunakan pada ribuan produk makanan, minuman dan kosmetik di seluruh dunia. Penggunaan sukralosa mulai diakui di Kanada pada tahun 1991, diikuti Australia tahun 1993, lalu New Zealand di tahun 1996. Di Amerika, pada tahun 1998, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui sukralosa digunakan hanya pada 15 kategori makanan dan minuman, namun setahun kemudian penggunaanya secara umum sebagai pemanis kembali diperluas hampir seluruh produk makanan dan minuman. Tahun 2004, Uni Eropa juga memberlakukan hal serupa. Sukralosa merajai market pemanis buatan sekitar 27,8 % dari total penjualan secara global.
Jangkauan pemakaian sukralosa jauh lebih luas dibandingkan pemanis buatan lainnya karena sifat kimia-fisik yang dimilikinya. Sukralosa memiliki Sifat kelarutan yang mudah larut dalam metanol, etanol dan air. Selain itu, ikatan atom klorin yang kuat dapat menciptakan struktur molekul sukralosa yang stabil bahkan sampai pada suhu yang tinggi.
Menurut FDA bahwa sukralosa aman dikonsumsi sepanjang digunakan dalam takaran yang sesuai. Kadar harian asupan sukralosa adalah 5 mg/kg per hari. FDA juga mengizinkan bagi pabrik makanan untuk melabel setiap produk dengan label "bebas kalori" jika mengandung kurang dari 5 kalori gula per produk. Hal ini dapat dilakukan pada sukralosa agar terlabel bebas kalori dengan membuat ukuran kemasan produk yang cukup kecil, sehingga tidak akan membuat aman bila dipakai dalam beberapa bungkus setiap harinya. Disamping itu, anjuran ini juga tidak disertai dengan syarat batasan atau pengecualian bagi kelompok tertentu, termasuk wanita hamil, ibu menyusui, janin, anak-anak, remaja, orang tua, individu dengan status medikasi dan pasien yang sedang menjalani pengobatan.
Dari laman NC News State (2018) dilaporkan beberapa hasil penelitian antara lain : sukralosa dapat dimetabolisme di dalam usus dan menghasilkan paling sedikit dua senyawa yang larut lemak, sukralosa itu sendiri ditemukan dalam jaringan lemak tubuh, sukralosa dapat melewati susu dari ibu menyusui, dan sukralosa dapat mengurangi keberadaan bakteri baik pada usus.
Dari laporan tersebut nampak bahwa konsumsi sukralosa dapat menimbulkan sejumlah resiko penyakit yang serius. Hal ini sesuai dengan rangkuman review oleh John Moody dari artikel yang dipublish dalam jurnal Toxicology and Environmental Health, Trends in Endocrinology & Metabolism.
Moody menyimpulkan ada 10 resiko masalah kesehatan dari penggunaan sukralosa sebagai berikut :
Moody menyimpulkan ada 10 resiko masalah kesehatan dari penggunaan sukralosa sebagai berikut :
- Konsumsi sukralosa merubah jumlah dan kualitas bakteri usus yang menguntungkan.
- Sukralosa dihancurkan pada pemanasan yang tinggi menjadi komponen beracun.
- Penguraian menghasilkan sedikitnya komponen yang tidak dikenali yang berimplikasi pada kesehatan tertentu.
- Sukralosa mengganggu regulasi insulin, glukosa atau glukagon.
- Sukralosa menghambat serapan spesifik obat.
- Memicu terjadinya resistensi inslulin dan perkembangan diabetes melitus tipe 2.
- Meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.
- Memicu terjadinya metabolik sindrom.
- Mendorong bertambahnya berat badan dan obesitas.
- Menyebabkan penyusutan kelenjar tymus, yang berpotensi dampak negatif pada sistem imun.
Moody juga menyarankan untuk menggunakan pemanis alami karena selain tidak menggangu kesehatan, pemanis alami dianggap memberikan beberapa nutrisi disertai rasa manisnya.
Referensi :
https://news.ncsu.edu/2018/08/sucralose-metabolites/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3856475/
https://www.thehealthyhomeeconomist.com/sucralose/
Referensi :
https://news.ncsu.edu/2018/08/sucralose-metabolites/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3856475/
https://www.thehealthyhomeeconomist.com/sucralose/